Who's She?


Tonight I decided to write again, this time about feelings that are not clear where they are headed. Yes, just My feelings. And of course dengan secangkir susu coklat hangat yang baru saja dibuat.

***

Apa aku sudah cukup dewasa untuk mengenal kata mahligai nan indah yang biasa orang jadikan alasan untuk saling menyakiti dan melukai? Ataukah aku masih terlalu dini untuk mengenal kata-kata yang tak jarang membawa petaka juga duka yang sering disebut cinta?

Aku ingat, aku pernah mencintai seseorang dengan sebenar-benarnya cinta. Memikirkan masa depan tanpa peduli akan berakhir seperti apa. Menjadikannya putri dalam singgasana hati yang kubuat dari rasa dan juga empati. Seolah-olah tak bisa kau dapati satu ruangpun di hati yang ku biarkan berdebu tak diurusi.

Namun, aku begitu kaku dalam berekpresi, terlalu cupu untuk mendekati, dan terlalu lugu untuk bertelepati (telekomunikasi lewat perantara hati). Mungkin aku tak seperti laki-laki lainnya, aku lebih suka mengajakmu berkeliling dunia, lewat imajinasi yang kita buat berdua, menyatukan pikiran dan bersatu padu dalam cerita.

Sayangnya, kamu tidak begitu. Kamu lebih memilih dia, yang tampaknya mampu membuatmu terus bahagia. Apakah ini berarti kamu yang terlalu cepat bergegas? atau aku yang belum terbiasa hingga merasa tertindas? Aku hanya ingin ada yang membersamai, tapi tak mungkin ku biarkan hati ini terluka untuk kesekian kali, karena lelah dengan permohonan hati yang terus menerus melukai dirinya sendiri dengan ekspektasi.

Wow lambat laun aku bisa terlelap dalam guratan cerita penuh derita. Tapi syukurlah, cokelatku masih setia menemaniku menulis kata demi kata. Jika malam adalah serial TV, maka episode malam ini bercerita tentang hati. Ngomong-ngomong soal hati, aku tau hati diciptakan dari segumpal darah. Tapi aku masih tak mengerti mengapa ia tak pernah bernanah meski sudah berkali-kali terpanah oleh luka yang semakin parah.


Komentar

Postingan Populer