She's gone. and I met the cloud


Aku ingat pertama kali melihatmu, kamu masuk kedalam hidupku tanpa permisi, jangan kan permisi, menyapa pun tidak. Saat itu otakku selalu berputar bagai gasing aduan, entah kamu milik siapa hatiku keras kepala. Aku tidak ingin banyak berdrama, apalagi soal hati, tapi aku tidak bisa mengeluarkanmu dari isi kepala. Aku tergila-gila hingga tak tahu mesti berbuat apa. Apakah ini yang biasa orang lain sebut jatuh cinta? menurutku ini mirip semacam hasrat purba yang lebih tua dari manusia. Sampai akhirnya kita mengasihi satu sama lain, menjadi sepasang kekasih yang katanya akan bersama selamanya, iya. Selamanya, lama.

"Aku mau berangkat ya" ucap kamu, setelah menutup pintu depan rumah.

"Kemana?" tanyaku, tegas.

Seminggu yang lalu saat perjalanan pulang, aku sempat mendengar kamu ngobrol lewat telepon yang katanya mau pergi naik gunung bareng teman sejurusan. Kamu terlihat sangat senang, mungkin karena turunan dari ayahmu yang seorang pendaki. aku yang mendengar seolah tak acuh.

"Kamu ga mau batalin? Udahlah disini juga banyak tempat yang asik nia" jelasku tak mengizinkan.

"Yeuuu, gabisa lah, nih ya, naik gunung tuh enaaaak banget, yaa.. emang capek sih naiknya, tapi kalo udah diatas tuh, uuuuuuhhhh gatau deh mau bilang apa, kayak ada kepuasan tersendiri gituu enaak" katamu dengan ekspresi gemas seolah membujuk.

"Iya tau aku juga, tapikan".

Kamu selalu mengelak setiap kali aku membujuk supaya tidak ikut. Aku yang sampai setengah mati menahan kamu pergi, kamu yang malah membahas tentang awan.

"Lihat deh awan itu bentuknya kayak apa?" tanya kamu.

Aku melihat langit, kearah ujung telunjukmu. Aku menjawab jujur.

"Kayak roti sobek".

"Engga dong, Dodoo" katamu.

"Itu lihat, kayak kucing ya?".

Aku kembali melihat kearah awan, lalu aku bilang.

"Iya, kalau kucingnya lagi makan segudang roti sobek".

"Ada apa sih dengan kamu dan roti" tanya kamu kesal.

"Udah ya, ceweknya mau pergi naik gunung dulu".

"Harus banget?!" tanyaku.

"Hadah, aku kan udah bilang dari seminggu yang lalu".

Dia tersenyum.

"Jangan kangen kangen amat ya".

Seandainya aku tahu setelah ini aku tidak akan mendengar suaramu lagi.


***

Aku masih saja menyalahkan diriku sendiri. Kenapa aku tidak ikutan naik gunung? Cowok macam apa yang tidak menemani pacarnya mendaki? Cowok macam aku, mungkin, yang memang tidak diperbolehkan orangtuanya naik gunung karena ada riwayat penyakit jantung dari lahir.

Kata teman-temanmu, kamu berusaha lebih cepat dari yang lainnya. Kamu memang dikenal tangguh, tapi kayaknya gak perlu mendaki dengan tergesa-gesa seperti itu, jadi meninggalkan teman lain yang sedang kecapean kan? Karena ketika kamu diatas sendirian lalu hilang tidak kembali, aku yang sekarang sendirian. Kami yang sekarang sendirian. Kami yang masih menunggumu pulang.

Tim pencarian pemerintah setempat dan warga yang membantu tidak menemukan apa-apa, dan setelah sekian lama, mereka memutuskan berhenti mencari. Aku masih ingat tanya ibumu kepada mereka.

"Jadi sekarang Tania bagaimana?"

Tim pencarian benar benar tidak bisa menjawab. At the same time aku ikut bertanya dalam hati.

"Jadi sekarang aku bagaimana, Tania?". ~


Aku masih suka datang lho ke Cafe dekat rumahmu, memesan ice Cappucino dengan cup, minum langsung dari cupnya padahal ada sedotan didalamnya. Itu yang seringkali kamu kesalkan, bukan?

Katamu, "Itu ada sedotan, kok malah minumnya gitu?".

"Biar diperhatiin aja" kataku.

"Masih kurang?" tanyamu.

"Selalu kurang" kataku. 

Lalu kamu senyum merasa geli. Tapi kalo boleh jujur, gombalanku cukup oke, kan? Percayalah aku punya lebih banyak lagi ketika kamu kembali.

Setiap hari minggu aku masih suka mampir diujung jalan rumahmu, memandangi awan dilangit yang biru, berusaha untuk berpegang dengan penggalan cerita kita dulu yang semakin hari semakin samar.

Hari ini aku mencoba menebak apa bentuk awan itu. Sekilas terkadang bentuknya seperti kapas, kadang juga seperti domba, tapi kenapa aku tidak pernah melihat yang seperti kucing?

Sebuah suara lirih kecil memecahkan lamunan.

"Meong!".

Disebuah selokan dekat rumahmu ada seekor kucing kecil didalamnya, kecil sekali, matanya hampir tertutup, badanya yang kecil meringkih, sudah pasti akan mati jika aku tinggalkan.

"Eh kucing, kamu kenapa?" kataku.

Aku juga tidak tahu kenapa aku malah berbicara bahasa Indonesia ke kucing itu. Kalau kucing itu bisa menjawab, "Gak papa cuy, kalem". Pasti aku langsung update video tiktok terbaru nyuruh kucing ini ngonten.

Si kucing semakin meringkih, dia berusaha jalan dengan tertatih, aku langsung membungkus si kucing dengan baju ganti didalam tas. Aku bilang ke kucing itu.

"Mulai sekarang nama kamu awan".

Jujur aku tidak suka kucing jalanan, mungkin bagi sebagian orang menilai mereka lucu, tapi bagiku pandangan mereka terlalu dingin, seolah mereka lebih baik dari manusia. Tapi aku belajar menyayangi awan, karena aku yakin ada yang mengatur pertemuan kami ini.

Hari demi hari aku mulai belajar tentang kucing. Awan sering mendengkur, awalnya aku bingung kenapa, sampai akhirnya aku bertanya pada teman yang memelihara kucing.

"Eh ini kucing gue kenapa menggeram gini dah, dia pengen makan gw apa gimana ya?".

"Enggak" kata temanku.

"Kucing itu kalau mendengkur artinya dia sayang".

"Cara yang aneh untuk menunjukkan rasa sayang" kataku.

"Lah kalo ada kucing yang tiba-tiba cium pipi lebih aneh lagi kan?" kata temanku.


***

Setiap setelah semua tugas kantor selesai, aku sering sekali bermain dengan awan. Aku dengannya juga suka membaca history chat kita di handphone. Awan duduk di pangkuan sambil melihat baris demi baris chat kita saling berbalas. Malam itu aku membaca topik chat kita dimana kamu mengingatkanku agar aku jangan sering-sering makan mie instan malam-malam yang aku balas, "Iya" terus kamu nanya, "Iya doang?" lalu aku teruskan "Iya sayang" terus kamu jawab, "Bagus" lalu aku nanya, "Bagus doang? dan kamu jawab "Bagus sayang".

Hal-hal yang begitu remeh seperti ini bisa membuat aku rindu sampai susah tidur. Awan menjadi teman terbaik untuk menjalani setiap hari yang ku lalui tanpa kamu. Ditengah jamkos kantor aku searching di google 'cara merawat kucing yang baik dan benar'. Sebagian teman kantorku menilai positif, ada yang bilang.

"Bagus deh lo pelihara kucing" katanya.

"Biar lo gak galau melulu".

Tapi tidak semua teman kantorku bilang seperti ini, ada juga yang seenaknya bilang,

"Lo udah setahun lebih masih aja berharap dia balik? Engga mau cari cewek lain gitu?".

Biasanya aku hanya menjawab singkat.

"Engga".

"Udah gek, anggap aja diputusin". 

Aku tidak menjawab, Seandainya dia tahu ini tidak seperti diputusin. Ini jauh lebih sakit. Kalau diputusin kita semua tahu orang itu tidak akan balik lagi. Tapi kalau manusianya hilang, kita bisa apa? Terkadang memang ada dilema antara menunggu atau berhenti berharap, antara maju atau terus diam ditempat.

Suatu hari awan jatuh sakit, dia tidak seaktif biasanya, dia juga tidak tertarik dengan mainan bulu yang biasa dijadikan mangsa-mangsaan. Aku segera ke dokter hewan hari itu juga.

"Dok ini kucing saya kenapa ya?" kataku.

"Oh gak apa-apa, dia dehidrasi aja" kata dokter hewan.

Dokter juga menganjurkan untuk memberi makanan yang basah, dan rutin mengganti air minumnya dengan air bersih. Setelah selesai membayar itu semua, sambil melihat struk belanjaan dari klinik, aku bilang kepada awan.

"Kenapa mahalan makanan lo dari pada makanan gue, wan?" 

Awan tidak menjawab apa-apa.

Malam harinya aku tidur didepan kandang awan, berbaring dilantai cukup membuat aku kedinginan, tak lama ibu datang membawa selimut dan menaruhnya diatas badanku.

 "Dodo, ayo tidur dikamar, yuk" kata ibu.

Aku setengah terbangun melihat wajah ibu ada didepan mata, kemudian aku menarik selimut sambil berkata.

"Aku mau jagain dia, Bu. Disini aja" kataku.

"Gak apa-apa do, dia baik-baik aja ko" kata ibu.

"Kita gak akan pernah tahu bu, aku gak mau ninggalin dia".

Ibu mengelus punggungku, dan berkata, pelan sekali.

"Do, kucing itu bukan Tania".

Aku tidak menjawab apa-apa, Ibu lalu pergi meninggalkanku. Padahal sudah lama kamu hilang, tapi kamu masih suka bikin aku nangis sambil menunggu ngantuk.


***

Seminggu berlalu awan sudah mulai aktif seperti biasa, seminggu berikutnya aku mulai mampir lagi diujung jalan rumahmu, kali ini Ibumu melihat dari luar rumah. Aku membalikkan badan dan hendak pergi dari sana, tapi terlambat, Ibumu menyapa, memanggil namaku.

"Dodo!".

Aku memutar kembali badanku, berjalan menuju rumahmu.

"Iya, Tante?" kataku.

Aku sudah lama sekali tidak berbicara dengannya.

"Tante tahu kamu setiap minggu ada diujung jalan, kan?" katanya.

"Kenapa gak mampir aja" lanjut Ibumu.

"Gak apa-apa Tante" kataku.

Sebenarnya dan sejujurnya aku tidak berani bertemu dengan Ibumu lagi, rasa bersalah yang aku rasakan ini seperti tas berisi batu besar yang memberatkan langkah. Karena tak seharusnya aku kehilanganmu, dan seharusnya aku yang nanti akan dititipkan untuk menjagamu, bisa menjaga kamu dari gunung itu.

"Kali ini aja, masuk, ya?" kata Ibumu.

"Enggak deh, Tante, Aku..."

Ibumu melihat tajam kearahku.

"Tante mau kamu masuk. Ya". 

Aku mengangguk pelan, kemudian masuk kedalam. Ibumu kedapur untuk menyediakan minuman. Aku yang menunggu melihat sekeliling. Ruang tamu rumahmu masih seperti yang aku ingat, penuh dengan cat putih didinding, juga letak foto keluargamu dengan figura kayu. Disudut ruangan masih ada piano sumbang yang keluargamu selalu tunda untuk perbaiki, yang berbeda hanya beberapa tambahan barang-barang. 

Ibu datang membawa air, detik jam dinding menemani keheningan yang kami bagi. Kami saling menunggu siapa yang akan berbicara duluan. Pada akhirnya Ibu kamu yang memulai.

"Kamu baik-baik aja?".

"Baik" kataku.

"Masa?" tanya Ibumu.

"Iya" kataku

"Tante masih sering ngobrol sama mama kamu lho, sama adik kamu juga lewat telponan" kata ibumu.

Hening. Suara jam kembali pada peranan sampingannya, mengisi kesunyian.

"Kami semua kangen sama Tania, kok, Kangen banget" kata Ibumu.

Sambil memegangi pundakku, Ibumu menahan air mata, mencoba untuk tidak menangis.

"Tapi bukan berarti kamu harus menyiksa diri kamu sendiri, Tante juga cemas kok. Tapi bukan berarti hidup ini tidak berlanjut".

"Iya, tante".

"Tante juga berharap sekali Tania ditemukan, baik sehat maupun tidak, meskipun menguburkan anak sendiri adalah hal yang paling tidak mengenakkan bagi para orangtua".

Aku hanya bisa mendengarkan.

"Tante sama Om tahu kok, seminggu sekali kamu mampir diujung jalan, memandangi awan seperti kebingungan melihat kearah rumah kami. Kami semua tahu kok, kamu orang yang terakhir ngobrol sama dia sebelum akhirnya berangkat, Kami tahu kok, kalau dihati kamu, kamu merasa bertanggung jawab atas semua ini".

Aku akhirnya buka suara.

"Aku hanya menyesal karena tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi".

"Gak ada yang tahu apa yang akan terjadi, semua ini atas takdirnya" kata Ibumu.

"Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, Do. Kami bahkan tidak menyalahkanmu. Kenapa kamu malah menyalahan diri kamu sendiri?".

Air mataku mulai terkumpul. Tapi kata Ayahku Laki-laki tak boleh nangis, kecuali saat dia kecewa dengan dirinya sendiri.

Ibumu yang melihatku tengah menahan air mata tiba-tiba berkata.

"Kamu ngambil kucing yang digot sana, ya?"

Aku sontak berpikir 'tahu dari mana Ibumu? mungkin dari tetangga yang melihat yang tidak sengaja melihatku'.

"Iya, aku rawat, Tante. Aku kasian, dia hampir mati disitu, makanya aku bawa pulang" jawabku.

Ibumu memajukan badannya kedepan, setengah tersenyum Ibumu berkata. 

"Do, kamu bisa memberi kehidupan yang baru untuk kucing itu, kan? Kamu juga bisa memberi kehidupan yang baru untuk diri kamu. Kamu bisa menyelamatkan diri kamu sendiri" terang Ibumu.

Mendengar kalimat Ibumu aku merasa kembali pada diriku yang dulu, dimana kita setelah nonton film Avengers End Game, lalu kamu membuang sampah popcorn dan botol lemon kedalam tempat sampah. Dan aku masih terbawa action film tersebut, aku berkata kepadamu.

"Kapanpun kamu dalam bahaya, aku pasti akan nolongin kamu".

Kamu malah jawab.

"Coba sekarang aku tanya. Hmmm, misalkan kita keracunan nih, nah kamu punya obat penawarnya cuma ada satu. Kamu mau kasih ke siapa?".

"Kasih ke kamu lah" kataku, dengan nada yang gagah.

Kamu malah tertawa.

"Aku gak mau, aku mau kamu menolong diri kamu sendiri" katamu.

"Kenapa?" tanyaku,

"Karena aku, sayang kamu" katamu, sambil tersenyum. ~

Setelelah satu gelas air putih dari Ibumu habis, aku langsung pamit pulang. Ibumu meninggalkanku berjalan kedalam rumah setelah memelukku erat sekali. Aku berjalan perlahan keluar dari halaman rumahmu sambil melihat sekumpulan awan yang juga berjalan perlahan. Aku memicingkan mata, awan yang kulihat hari ini masih tidak terlihat seperti seekor kucing. Namun, awan hari ini terlihat seperti seseorang yang hendak pergi, seseorang yang seakan meninggalkan semua beban yang selama ini membuat dirinya berhenti. Seseorang yang bebas untuk kembali.


~ Thank You ~

Komentar

Postingan Populer