Antara Ilmu dan Harta


Sebenarnya seberapa penting sih menuntut ilmu itu buat teman-teman?

Kalo di rating 1-10, teman-teman nomor berapa? Kalo penulis sendiri si satu.

Satu nya dua maksudnya (11) hhe.

Sekarang kalau ditanyakan bahwa harta itu penting gak sih? Penting lah jelas. Gak punya duit gak bisa makan, gak bisa sekolah disekolah favorit, gak bisa healing healing keluar, dan lain sebagainya. Betul? Iya!

Sekarang jika penulis kembali bertanya, lebih utama ilmu atau harta?

Saya yakin teman-teman yang sedang membaca tulisan ini vote nya lebih ke ilmu.

Tapi secara tak sadar, terkadang kita terlalu mengkhawatirkan kekayaan yang kita miliki, harta yang kita punya, tahta yang kita duduki itu sirna tanpa lebih mengkhawatirkan hilangnya pengetahuan atau wawasan atas apa yang kita pelajari, terkhusus ilmu pengetahuan tentang agama.

Dalam hadis mencari ilmu, anjuran menuntut ilmu itu dimulai sejak lahir hingga akhir hayat. 

اطلب العلم من المهد (الرضيع) إلى اللحد

Artinya: “Tuntutlah ilmu dari buaian (bayi) hingga liang lahat.”

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim."

Sebab keutamaan ilmu diatas harta, telah disebutkan Ali ibn Abi Thalib dengan begitu indahnya. Tertulis dalam buku Ust. Salim A. Fillah ( Menyimak Kicau Merajut Makna ). Mari kita sebut.


llmu itu lebih afdhal dibanding harta, sebab ia warisan Rasul dan Anbiya, sementara emas-perak-permata, dilungsurkan Fir'aun, Qarun, dan raja-raja. Ilmu lebih utama dibanding harta, sebab ilmu menjaga pemiliknya, sementara pemilik harta bersusah payah menjaga kekayaannya. Ilmu lebih hebat dari pada harta. Jika ilmu menguasai harta mulialah keduanya. Jika harta menguasai ilmu, terhinalah keduanya. Ilmu lebih agung dibanding harta, sebab kekayaan akan berkurang jika dibelanjakan, sementara pengetahuan akan bertumbuh jika dibagi-bagi. Ilmu lebih setia daripada harta. Ilmu menyertai pemiliknya menuju kematian dan kebangkitan. Tetapi harta tak mau ikut serta dan tetap ingin di dunia. Pemilik ilmu terhormat dan dibutuhkan semua insan, dan jelata hingga para raja. Harta hanya berguna dihadapan hajat fakir, miskin, dan dhu'afa

Bagi pemilik harta, alangkah banyak musuh yang jahat dan kawan tak tulus. Sementara pemilik ilmu akan banyak saudara dan sedikit lawannya. Pemilik harta hanya digelari yang baik-baik jika membagi kekayaannya. Pemilik ilmu digelari yang baik-baik sejak berburu pengetahuan. Tamak terhadap ilmu membuat mulia didepan guru, kawan, dan lawan. Tamak terhadap harta, menjijikkan dimata orang miskin maupun kaya.

Di akhirat kelak, pemilik harta akan rumit urusan sebab berbelitnya hisab, sementara pemilik ilmu akan mendapat kemudahan dan syafa'at. Keagungan pemilik harta ada pada kekayaan yang terletak di luar dirinya. Kemuliaan pemilik ilmu ada pada

pengetahuan yang menyatu. Musuh Musa yang berharta: Fir'aun, jatuh karena sombong-mengaku tuhan. Kawan Musa yang berilmu: Khidzir, rendah hati-menghayati kehambaan.

Semua ibadah dan ketaatan kepada Allah dilakukan dengan ilmu. Tetapi umumnya kemaksiatan keji dan mungkar dilakukan

dengan harta. Sulit menemukan kemaksiatan yang ditujukan

untuk memperoleh ilmu. Bertabur banyaknya kedurhakaan yang ditujukan untuk mendapat harta. Harta membawa kesedihan sebelum mendapatkannya, memberi ketakutan setelah memperolehnya. Ilmu itu kegembiraan dan keamanan, kapan pun dan dimanapun.

Mencintai ilmu, baik punya maupun tidak adalah mata air kebajikan. Mencintai harta, baik memilikinya ataupun papa adalah sumber keburukan. Adam diciptakan, lalu dia dibekali ilmu—bukan harta—yang membuatnya unggul di hadapan para

malaikat (Surat Al-Baqarah ayat 31-34). Rabb kita menurunkah wahyu pertama terkait ilmu (Surat Al-'Alaq ayat 1-5). Allah memerintahkan Dia ditauhidkan dengan ilmu (Surat Muhammad ayat 19), bukan dengan harta. "Terbagi hamba-hamba Allah itu menjadi empat golongan. Golongan pertama, dikaruniai Allah ilmu dan harta. Maka dia bertakwa kepada Allah dan menafkahkan hartanya di jalan Allah. Golongan kedua, diberi Allah ilmu, namun tak dilimpahi

harta. Maka dia bertakwa kepada-Nya dan selalu berkata pada dirinya, 'Andai dikarunia seperti hamba pertama, aku akan

berbuat sebagaimana yang dia lakukan.' Sesungguhnya pahala kedua orang ini SAMA. Hamba ketiga, diberi harta tanpa beroleh ilmu. Maka dia tak bertakwa kepada-Nya, berbuat sia-sia dan dosa. Hamba keempat, tak berharta dan tak berilmu, maka dia tak bertakwa dan selalu berkata pada dirinya, 'Andai aku

diberi harta seperti hamba ketiga, aku juga akan melakukan hal sia dan kemaksiatan seperti dia.' Dosa kedua orang ini SAMA." (H.r. Ath-Thabrani)

Kesimpulannya: Harta hanya bisa mulia dan membawa ke surga jika dibersamai ilmu. Ilmu tak harus disertai harta untuk itu. Orang berharta dan berilmu yang berinfak, pahalanya SAMA dengan orang berilmu yang baru bercita untuk itu; pun sebaliknya Demikian sekelumit di hari ini. 

Saya tidak hendak mengajak temen-temen untuk membenci harta, tapi mari sedikit-banyak mengalihbentuknya menjadi ilmu.

Komentar

Postingan Populer