Hantu Dalam Mimpi
Kabar baik disini, semoga disana juga ya.
Sudah sekitar 7 bulan berjuang, mengupayakan diri untuk tak lagi jatuh dalam jurang rindu, tersebab kamu masih singgah dalam segumpalan daging yang katanya adalah hati. Mohon maafkan kataku jika dirasa tak begitu syahdu, hingga kamu ingin segera menyudahi bacaan ini yang tak mutu.
Malam itu aku mengingat baris demi baris chat kita saling berbalas.
"Ada cerita apa hari ini?"
"Gak ada, kamu ada cerita gak?" Ucapmu.
"Hmm, bentar" Jawabku.
Selalu seperti itu, dan nyaris selalu aku yang lebih giat mencari cerita untuk sekadar bercengkrama denganmu hingga larut.
Haha, entah kenapa masa lalu selalu layak untuk di tertawai.
Ku kira diumur yang ke-19 tahun ini perkara mengingat masa lalu "cinta" itu sudah bisa diminimalisir. Nyatanya semakin dilupa semakin teringat. Aku berasumsi saja bahwa aku mungkin belum menemukan orang yang cocok untuk ku ceritakan soal ini—dengan harapan mendapat masukan atau saran yang selama ini ku cari-cari. Aku tahu salah-satu cara mengatasi overthinking adalah dengan menyibukkan diri dengan kegiatan positif. Tapi tak dapat disangkal, setiapkali tertidur—entah siang atau malam—sosok lucu dirimu yang kukenal seringkali hadir dalam setiap mimpi. Apakah ini yang biasa disebut rindu? menurutku ini lebih mirip semacam hasrat purba yang lebih tua dari manusia.
Sungguh aneh tapi nyata. Kita yang tak pernah punya hubungan resmi pacaran, justru kamu yang tersulit dilupakan dari sekian banyak hal yang harus dibuang dari pikiran. Mungkin tersebab kenangan waktu itu; saat kita sehabis menonton salah satu film Marvel, lalu aku mengantarmu pulang, lalu aku harus menuruti perintahmu agar aku makan denganmu lebih dulu dirumahmu sebelum akhirnya aku pulang. Bercerita ngalur ngidul saat makan berlangsung, hingga salah satu dari kita tak ada yang berbicara. Aku menoleh ke kiri tanpa sengaja, mendapati kamu yang tengah sibuk makan dengan jarak sedekat itu—lebih dekat dibanding saat kita menonton film. Satu kesadaran yang dipicu getaran detak jantung yang kian cepat dan menggelisahkanku, hingga aku lebih memilih banyak terdiam sampai makanan habis kulahap. Setelah semua selesai, aku mengakhiri candaan kita malam itu.
"Ada yang ketinggalan ga?" Tanyamu.
"Hp udah, dompet udah, helm udah. Oh ada!" Kataku.
"Apa?"
Aku tersenyum kecil lalu menunjuk kearahmu, secara tidak langsung menjelaskan bahwa yang tertinggal adalah kamu. Kemudian kamu tersenyum tipis merasa geli, seolah berkata "hadeuh, nih cowo gombaaal terus kerjaanya". Setelahnya aku benar-benar pamit pulang, namun kali ini kamu menunjukkan ekspresi gemas yang seakan tak rela aku pergi. Ah entahlah, mungkin hanya persepsiku saja.
Kamu tahu? Aku menulis ini semua BUKAN untuk mempengaruhimu atau supaya aku bisa bercanda gurau lagi sedekat itu denganmu. Karena aku tahu betul apa yang telah kita lakukan dulu adalah perbuatan DOSA.
Aku menulis ini hanya sekadar melampiaskan gelisah yang terus ada setiap mimpi denganmu itu muncul, sekaligus merecall agar aku bisa melupakan. Walaupun aku tahu, mustahil rasanya untuk benar-benar melupakan. Karena fakta itu benar, aku masih menyukaimu.
Sungguh aku tak ingin lagi merasakan jatuh cinta, sampai pada kesiapan yang matang untuk menikah. Maka beruntunglah teman sekalian yang tak pernah dekat dengan hal yang tak Allah sukai, dan beruntunglah teman sekalian yang berhasil memutus rantai dosa dengan menikah. Karena bahagia adalah saat yang kau cinta, tapi pernah nyaris bersama jatuh dalam hina dan petaka, kini tersatu kembali dijalan yang diridhoi-Nya.
Semoga Allah maafkan kita atas dosa yang telah kita perbuat. Agar terhindar dari fitnah, semoga kita terbiasa menundukkan pandangan seperti yang telah Allah ingatkan dalam Q.S An-Nur. Semoga kita senantiasa berharap hanya kepada sang khaliq, bukan kepada yang dicipta-Nya. Karena Sayyidina Ali R.A pernah berkata; "Aku telah merasakan semua kepahitan dalam hidup, namun yang paling pahit adalah ketika berharap kepada manusia". Aamiin allahumma aamiin.
Mulailah menjadi lebih baik. Jangan malu untuk itu. Karena hidup ini terbatas.
~ Seperti biasa, ambil ibrah terbaiknya ya teman-teman. Maafkan jika bahasa yang digunakan agak menjijikkan.

Komentar
Posting Komentar