Dia Yang Ku Cinta
Bandung, 22 Desember 2022.
Senyum bahagia tak henti-henti terpancar dari cantik parasmu. Aku sudah menduga, kau akan selalu cantik. Diumur yang sudah hampir mendekati 50 tahun, kecantikanmu bagiku tak pernah luntur sedikitpun. Karena ketulusan yang selalu diberi tiada henti telah menutupi seluruh keriput diwajahmu.
Aku tak memandangmu sebagai seorang wanita tua yang lemah. Akan ku jatuhi hukuman berat pada diriku jika berani-beraninya menganggap wanita yang sangat penyabar, lemah lembut, kuat, tegar, cantik, dan penyayang yang selalu ada saat manusia lain tak peduli dengan hari-hari burukku.
"Ummi, tolong anterin Uqi."
"Ummi, tolong ambilin itu mi."
"Ummi, tolongiin."
"Ummi, tolongin lagi."
"Ummiiiii...."
Dengan segala upaya selalu kau lakukan untuk menuruti semua permintaanku. Tak habis pikir diriku ini, bagaimana kau masih bisa bersabar ketika aku yang sangat tidak tahu diri kala itu marah padamu hanya karena hal-hal sepele. Tak terbayang sakitnya ketika kau melahirkanku, namun justru aku menambah perasaan sakit yang tak diinginkan semua orang itu. Dengan semua pengorbanan, membesarkanku dengan kesabaran, ketulusan, juga keikhlasan hatimu yang Mulia, tak pernah bisa terbandingi walau dengan seluruh sisa hidupku ditujukan untuk membalas kebaikanmu.
Ummi, Sekarang anakmu sudah 19 tahun. Usia yang sudah tak pantas disebut lagi sebagai anak kecil. Tapi itu bukan hal yang kuinginkan. Aku ingin tetap menjadi anak kecilmu seumur hidup. Aku ingin kau tetap menyayangiku seperti dulu.
Aku sungguh mencintaimu karena Allah lebih dari apapun.
Aku sungguh menyayangimu karena Allah lebih dari apapun.
Tulisan singkat ini tak ada apa-apanya untuk bisa menggambarkan betapa ku cinta dirimu, karena mustahil bagiku untuk kemudian membalas semua ketulusan yang telah kau berikan. Betapa indah ucapanmu ketika menyemangatiku yang sedang terpuruk. Betapa indah wajahmu yang muncul dalam muhasabah malamku. Sosok indah yang kucintai setelah Allah dan Rasul-Nya.
Thank u for the love you given me, and i'll always love you.
“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim no. 2551).
Yuk gais, jangan tunggu penyesalan untuk segera mengucap dan bertindak cinta pada Ibu. Peluk dengan erat, kecup dengan hangat sekarang.
~ Selamat Hari Ibu ~

Mantap keren, semangat terus mas...
BalasHapusthank you bro!
Hapus